oleh

Dulu Kumpul Uang Ribuan Untuk Pemekaran, Sekarang Tokoh-Tokoh Hanya Dengar Ada Acara HUT Kabupaten

Ketgam. Pak Yasir Nur ( 70 tahun ) di dampingi Ny .Nur Baena Yasir ketika di temui awak media (8/6/2021)

 

Berita Sidikkasus.co.id

BINTUNI –  Wartawan media ini bersama dengan wartawan dari media lainnya , sepakat menggali kisah dari tokoh-tokoh Pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni kurang lebih 18 tahun silam.

Sejarah terbentuknya Kabupaten Teluk Bintuni yang saat ini akan berusia 18 tahun di tanggal 09 Juni 2021 menarik , bagaimana upaya dari para tokoh Pemekaran tersebut.

Pak Yasir Nur ( 70 tahun) di dampingi Istri Ny. Nurbaena Yasir di rumah tinggalnya Kampung Tahiti, Distrik Bintuni kepada tim Wartawan ketika di jumpai , Selasa (08/06/2021) menuturkan, awalnya di bentuk Tim 100 sebagai Tim Pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni yang di kordinir oleh Bapak Decky Kawab Almarhum.

Dan Rumah adat yang berada di Kali kodok sebagai tempat pertemuan para pejuang pemekaran tersebut.

” Dulu kita kumpul semua di rumah adat yang terbuat dari kulit kayu pada tahun 2002 kami bergerak, ” ujar Kakek yang memiliki Tujuh orang anak dan sembilan belas cucu itu.

Pak Yasir dengan kondisi kurang sehat ( baru keluar dari RSUD Bintuni) menuturkan, hasil dari pertemuan di Rumah Adat Saya di unjuk menjadi Tim Pencari Dana untuk Pemekaran Kabupaten.

Foto. Tim Wartawan di Rumah tinggal Pak Yasir Nur (70 tahun) salah satu tokoh Pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni, Selasa (8/6/2021)

” Saya dengan Pak simon Manibuy Almarhum, kami sebagai tim pencari Dana, kita datangi perusahaan Hendrison bersama dengan Pak Yepta Yettu punya maitua (Istri_red) , ” kata Orang Tua Kandung dari Ketua DPW PPP Provinsi Papua Barat, Yasman Yasir itu.

Pak Yasir mengulangi, Saya di tunjuk oleh masyarakat, mencari dana untuk pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni, mereka mengatakan tidak usah ambil bendahara banyak- banyak.

Saat terbentuknya Tim, ada yang usaha dana di Daerah dan ada yang sudah siap di Jakarta, Andi Baso sebagai Kepala Kecamatan Bintuni di masanya dan Pak Deky Kawab, Sudah di Jakarta.

Proses pengurusan Pemekaran Kabupaten ini kurang lebih dua bulan saja, Kabupaten ini sudah jadi, dulu Bintuni kecamatan sekarang sudah ramai. Saya tahun 72 sudah ada di Bintuni.

Dengan raut wajah sedikit kecewa, kepada tim Wartawan Pak Yasir menyampaikan , ” Saya belum pernah dapat Cendramata dari Pemerintan belum pernah dapat, bila mengingat saya dengan pak simon Manibuy banting tulang,” kata Pak Yasir

Namaun Pak Yasir menaroh harapan yang besar , ” Mudah – mudahan kabupaten Teluk Bintuni ini lebih maju dalam segala hal, dan memberdayakan Generasi muda di Teluk ini, dan semakin ramai, ” ucapnya dengan penuh semangat.

Sebagai seorang Istri dari Pak Yasir, Ny. Nur Baena Yasir, menambahkan, ” Mudah- mudahan kabupaten Teluk Bintuni lebih maju kedepan untuk masa depan anak cucu, ” harapnya.

Seusai menggali informasi tentang pemekaran dari Keluarga Pak Yasir Nur, tim Wartawan mendatangi rumah tinggal Ibu Yepta Yettu di Kampung Bina Desa, Distrik Bintuni, salah satu nama yang di sebut oleh Ayahanda Yasmin Yasir, Martapina Yamban Yettu (60 tahun)

Cerita yang hampir mirip dengan apa yang di sampaikan oleh Pak Yasir Nur, Mama Martapina Yettu mengatakan dari Tim , saya di tunjuk menjadi bendahara bersama teman ( Pak Yasir Nur maksudnya). Kami di tugaskan sebagai bendahara ada beberapa orang kami jalan, dari SP ke SP Tim jalan, dari Bintuni, Stengkol, Barma, sampai di Jagiro.

Foto. Tim Wartawan di salah satu rumah tokoh Pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni Martapina Yamban Yettu (60 tahun) di Bina Desa, Selasa (8/6/2021)

Misal pak Yasir, pak Waretma (alm), dulu mencari dana bukan pake mobil, tapi pake motor saya berdua dengan Pak Yasir ini baku bonceng, sampai pak Waretma berpesan hati- hati itu orang pua maitua (istri orang),

Saat kami berjalan (minta-minta ) kita masuk ke kampung – kampung, ada yang kasih 5000, ada juga yang kasih 3000, ada juga yang 10000 demi pemekaran Kabupaten. Setelah dapat kami kirim ke tim 100 di Jakarta, kata Mama Yettu.

Tim 100 ini di pimpin langsung oleh pak Deky kawab, dengan dan petuanan seperti Bapak Simon Manibuy, bapak Yetu Yeta, Frans Ijehido, ucapnya.

Setelah pemekaran, karateker turun, panitia masih mendampingi karena belum pembubaran, kita harus benahi betul- betul masyarakat ini apakah mereka benar- benar menerima karateker untuk kabupaten ini atau tidak? terang Mama Yettu.

Selama satu tahun kita sama- sama membenahi, harapan dari saya sebagai perempuan dan sebagai tokoh pemekaran kami berhayap kabupaten Teluk Bintuni ini, harus berjalan dengan baik mulus kita punya anak- anak harus dia maju dia jadi orang yang baik, dan harus di hargai.

” Saya mau kita membangun Negeri ini dengan kasih. Kita harus melihat masyarakat yang masih terbelakang , ” sebut Mama Yettu.

Kita tim pemekaran Kabupaten ini bukan dari tujuh suku, dulu itu semua yang berdomisili di kabupaten Teluk Bintuni biar pendatang jadi tidak ada istilah Tujuh Suku. Semua orang Papua dan pendatang bersatu, merasa memiliki negri ini , semua mengambil mengambil bagian, ucap Mama Yettu penuh semangat

Anak selama kabupaten ini mulai jalan sampai hari ini juga, tidak pernah ada pemerintah yang datang , untuk memberikan penghargaan kepada tokoh- tokoh masyarakat yang ikut memgambil bagian untuk pemekaran, saya tidak pernah di berikan cendera mata, tidak ada, hanya kita dengar saja ulang tahun ke ulang tahun, ” Ujarnya.

Bintuni dulu saya lihat ibu- ibu dulu, bapak pergi mencari mama pergi mencari tapi sekarang mama sudah tau pake listib, sudah sisir Rambut tarik rambut su trapusing dengan kebun lagi. Karena perubahan.

Organisasi yang masuk di kabupaten ini, merubah Ibu-ibu punya pola hidup, pola berpikir yang dulu dia sudah merobah semua.

Nenek saat ini memiliki tiga orang cucu, dari tiga anaknya, Mama Martapina berharap kedepan untuk pembangunan ini harus merata, jangan melihat ini saya punya orang tidak boleh, semua ini datang untuk Negeri, jadi harus merata. Pembangunan fisik maupun SDM, pinta dia.

Bapak Abraham Wekaburi sebagai Kordinator Tujuh Suku untuk distrik Bintuni, Bapa Yettu sebagai penasehat untuk Tim 100 yang ke Jakarta. Lainya sudah meningal termasuk Bapak Petrus Horna, Bapak Yohaki Menci, Yulianus Menikrowi, karna sudah tidak ada jadi tidak bisa kita sebut, kata Perempuan Tokoh Bendahara Pemekaran ini.

Mama Martapina juga menceritakan hasil dari upaya mereka, ” Uang yang kita kumpul sebesar 500 ribu, 39 ribu rupiah. Kirim buat Tim itu proses pertama, itu dulu saksinya ibu Aqnes Manibuy almarhum, ” ungkapnya.

Foto. Mama Martapina Yamban Yettu (60 tahun)

Wanita asli Nabire ini juga mengisahkan sosok dari Bapak Deky kawab, ” waktu berjuang untuk pemekaran kabupaten ini, dia banyak memberikan pemikiran, tidak banyak berikan uang tapi dia banyak berikan masukan untuk masyarakat. Dia datang terlebih untuk orang Suku Sough dan orang Moskona.

Pesanya ” Bapak Ibu dorang besok lusa itu kita harus berdiri sendiri, jangan kita tinggal di orang punya rumah, kita harus punya rumah sendiri supaya kita mau bergerak kiri kanan itu bebas, kalau di orang punya rumah kita mau bergerak itu kita malu, kita mau cari makan kita malu, ” ucap Mama Martapina dengan dialeg Papua nya . (Ser)

Komentar

News Feed