oleh

BPAN – AI Bersinergitas Bersama Pemdes Aliyan

Berita Sidikkasus.co.id.

BANYUWANGI – Tak perlu dipertanyakan lagi, bahwa di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur banyak sekali potensi destinasi wisata maupun kulinernya. Kondisi tersebut tak bisa lepas dari sentuhan kreatif dan inovatif Abdullah Azwar Anas, mantan Bupati Banyuwangi dua periode yang baru mengakhiri masa jabatannya pada 17 Pebruari 2021 lalu.

Seluruh desa dan kelurahan yang ada diberdayakan sesuai kultur dan kearifan lokalnya. Sehingga memunculkan kompetisi positif di masing-masing desa dan kelurahan itu sendiri untuk semakin semangat menggali potensi yang ada serta berupaya mengembangkan dengan ending mengangkat perekonomian masyarakatnya.

Demikian pula yang saat ini terjadi di sebuah desa bernama Aliyan. Desa yang secara kewilayahan masuk Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur, ini sedang berproses, bergerak dan berbenah menuju perubahan. Sejak dipimpin Anton Sujarwo, SE terhitung mulai 2017 lalu, tampak geliat berbagai perkembangan ekonomi dengan tanpa meninggalkan kearifan lokal masyarakatnya yang asli ‘Suku Using’.

Ketgam. Anton Sujarwo. SE. Kepala Desa Aliyan. Kec.Rogojampi. Sekaligus Ketua ASKAB Banyuwangi.

Anton, sapaan akrab kades muda yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kepala Desa Kabupaten (Askab) Banyuwangi ini, bersama berbagai elemen warga masyarakat bertekad akan mengembangkan potensi budaya di desanya untuk dijadikan sebagai sebuah destinasi wisata tradisionil. Dan salah satu upaya Anton itu, adalah menggandeng dan bersinergi 3KO dengan Badan Penelitian Aset Negara Aliansi Indonesia (BPAN-AI) Banyuwangi.

“Kita lakukan komunikasi, koordinasi dan kolaborasi atau 3KO dengan BPAN AI. Tujuan utamanya meningkatkan perekonomian warga masyarakat. Karena nantinya, dengan keberadaan Aliyan sebagai Desa Wisata Budaya, tentu bakal mendatangkan banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” urainya, Jum’at (19/02/2021) sore.

Dikatakan Anton, yang bakal dia jual salah satunya adalah ikon ritual budaya tradisional “Keboan Aliyan”. Karena sejauh ini, dengan digelarnya ritual ‘Keboan” di setiap tahun yang jatuh pada bulan Suro, ribuan warga masyarakat Banyuwangi, luar kota, bahkan turis mancanegara selalu berdatangan tanpa woro-woro maupun diundang.

“Karena ritual budaya “Keboan Aliyan” ini juga sudah masuk kalender tahunan Pemkab Banyuwangi, dan sudah menjadi “Ikon” desa kita, sehingga seperti mengalir begitu saja massa dan wisatawan berdatangan. Namun selain itu, masih banyak lagi potensi lain yang bisa kita suguhkan, baik seni budaya, wisata alam berupa pemandangan persawahan dengan ratusan ‘Kiling’ nya dan perbukitan maupun wisata kuliner tradisionilnya,” paparnya.

Terpisah, Ketua BPAN AI Alief Hudi Widayat didampingi Ketua Dewan Pembina, Hakim Said, SH, menyatakan kesiapannya untuk melakukan pendampingan Desa Aliyan menuju “Desa Wisata Budaya Aliyan”.

“Kami bersama tim BPAN AI Insya Alloh siap bersinergi 3KO dan melakukan pendampingan. Karena sebagaimana tupoksi lembaga kami, Desa Aliyan adalah ‘aset negara’ yang memang seharusnya kita kawal pemberdayaannya di semua tingkat sektoral,” tegasnya.

Reporter: Solikin.

Komentar

News Feed